Edwin Hubble dilahirkan tahun 1889 di backwoods di Marshfield, Missouri, Amerika Serikat. Hubble adalah anak desa yang sopan dengan ambisi besar. Ayahnya yang seorang pengacara dan agen asuransi, mendesaknya untuk mengejar karir dibidang hukum. Namun Hubble lebih terpesona dengan buku-buku Jules Verne dan sangat senang dengan perbintangan. Ia melahap karya-karya fiksi ilmiah klasik seperti “Dua puluh ribu liga di bawah Laut” dan “dari Bumi ke Bulan”. Ia juga seorang petinju terlatih; promotor-promotornya menginginkannya untuk menjadi petinju profesional dan bertarung melawan juara tinju dunia kelas berat saat itu, Jack Johnson.
Ia memenangkan beasiswa bergengsi Rhodes untuk melanjutkan studi hukum di Oxford, dimana ia mulai mengadposi cara-cara orang inggris kelas atas (ia mulai mengenakan jas wool, mengisap pipa, mengadopsi aksen berbicara orang terpelajar inggris, dan membual soal carut di mukanya karena bertarung, dimana konon luka tersebut dibuatnya sendiri).
Meski demikian, Hubble tidak bahagia. Yang benar-benar memotivasinya bukan soal-soal perlanggaran hukum atau tuntutan hukum; cintanya adalah pada perbintangan, sesuatu yang ia mulai sejak kanak-kanak. Dengan berani ia lalu beralih karir dan pergi menuju Universitas Chicago dan observatorium di gunung Wilson, California, dimana terdapat teleskop terbesar di dunia pada saat itu dengan lensa 100 incinya. Karena sangat terlambat memulai karirnya, Hubble menjadi terburu-buru. Untuk menggantikan waktunya yang terbuang sebelumnya, ia dengan cepat memantapkan diri untuk menjawab beberapa petanyaan terdalam dan hal-hal yang lama menjadi misteri di astronomi.
Pada masa 1920-an, alam semesta adalah tempat yang nyaman; saat itu umum dipercayai bahwa segenap alam semesta terdiri dari hanya galaksi “Jalan Susu” (Milky Way), yaitu sederetan kabut cahaya yang memotong langit malam berbentuk susu yang tumpah (kata “galaksi” sebenarnya berasal dari kata yunani yang berarti susu). Di tahun 1920, “debat besar” terjadi antara astronomer Harlow Shapley dari Harvac can Heber Curtis dari Observatorihm Lick. berjudul “Skala Alam Semesta”, topik ini membahas ukuran galaksi Jalan Susu dan alam semesta itu sendiri. shapley mengambil posisi dalam berpendapat bahwa Jalan Susu mengisi segenap alam semesta. Sementara Curtis percaya bahwa di balik Jalan Susu terbaring “Spiral Nebula”, sesuatu kabut yang berliuk-liuk sepeti spiral yang aneh tapi indah. (Sejak 1700-an, filosof Immanuel Kant telah berspekulasi bahwa nebula ini adalah “pulsu-pulau alam semesta”)
Hubble penasaran dengan debat ini. Masalah kunci dalam menentukan jarak ke bintang itu merupakan tugas yang sangat sulit (bahkan sampai sekarang) dalam astronomi. Bintang yang cemerlang tapi sangat jauh dapat terlihat identik dengan bintang yang redup tapi dekat. Kebingungan ini adalah sumber dari percekcokan dan kontroversi di astronomi. Hubble membutuhkan suatu “lilin standar”, yaitu suatu objek yang memancarkan jumlah cahaya yang sama di manapun di alam semesta agar dapat menyelesaikan masalah tersebut (sebagian besar usaha dalam kosmologi, pada kenyataannya, sampai saat ini adalah bagaimana menemukan lilin standar seperti itu. Banyak debat dalam astronomi berkisar dalam hal seberapa tepatnya lilin-lilin standar tersebut). Jika seorang memiliki lilin stadar seperti itu yang terbakar secara seragam dengan intensitas yang sama di segala penjuru alam semesta, maka suatu bintang yang empat kali lebih redup dibanding normal sederhananya adalah berjarak dua kalinya dari bumi (rasio intensitas berbanding kwadrat dari jarak)
Pada suatu malam, saat menganalisa foto spiral nebula Andromeda, Hubble mendapatkan momen Eurekanya. Apa yang ia temukan di dalam Andromeda adalah suatu tipe bintang variabel (disebut Cepheid) yang telah dipelajari sebelumnya oleh Henrietta Leavitt. Telah diketahui bahwa bintang ini secara teratur berkembang dan meredup mengikuti waktu, dan waktu untuk siklus penuhnya berkorelasi dengan kecerahannya. Semakin cerah bintang tersebut, semakin lama siklus pulsasinya (denyutannya). Jadi, sederhananya dengan mengukur panjang siklus ini, seorang dapat mengkalibrasi kecerahannya sehingga dapat menentukan jaraknya. Hubble menemukan bahwa bintang tersebut memiliki perioda 31,4 hari, sesuatu yang mengejutkannya, karena diterjemahkan menjadi jarak satu juta tahunn cahaya, jauh di luar galaksi Jalan Susu. (cakram terang dari galaksi Jalan Susu hanya berukuran melintang 100.000 tahun cahaya. Perhitungan-perhitungan selanjutnya menunjukkan bahwa Hubble kurang memperhitungkan jarak sebenarnya ke Andromeda, yaitu mendekati 2 juta tahun cahaya).
Ketika ia melakukan eksperimen yang sama pada spiral nebula lainnya, Hubble menemukan bahwa mereka semua jauh di luar galaksi Jalan Susu. Dengan kata lan, telah menjadi jelas baginya spiral-spiral nebula ini merupakan pulau-pulau alam semesta – bahwa galaksi Jalan Susu hanyalah satu galaksi di dalam lautan galaksi.
Dengan itu dapat disimpulkan, ukuran segenap alam semesta menjadi jauh sangat besar. Dari satu galaksi, alam semesta sekonyong-konyong berpopulasi jutaan, mungkin milyaran galaksi-galaksi lainnya. Dari hanya satu galaksi yang berukuran melintang 100,000 tahun cahaya, alam semesta tiba-tiba menjadi berukuran lintang mungkin milyaran tahun cahaya.
Penemuan bintang tersebut saja sudah akan menjaminnya mendapatkan tempat terhormat di kalangan pakar astronomi. Namu ia bahkan melampaui penemuan tersebut. Tidak saja ia menentukan jarak ke sejumlah galaksi, ia bahkan ingin menghitung seberapa cepat galaksi-galaksi tersebut bergerak. (bersambung)